Kambing PE Kaligesing Diakui Melalui SK Mentan

Posted: 30 April 2010 in berita
Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Eksistensi kambing Peranakan Ettawa (PE) ras Kaligesing ke depan, cukup mengkhawatirkan. Disamping pejantan berkualitas A banyak yang dijual ke luar Kabupaten Purworejo, permintaan bibit tidak sebanding dengan persediaan. Untuk mempertahankan dan mengembangkan populasi kambing PE ras Kaligesing yang telah menjadi ikon Kabupaten Purworejo, peternak butuh bantuan modal. Hal tersebut mengemuka saat Komisi B DPRD Propinsi Jawa Tengah melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Kaligesing. Kunjungan kerja Komisi B dipimpin Ir H Muh Wasiman, diterima Wakil Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain, di UPT Balai Pembibitan  dan Budidaya Ternak Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing. Wakil Bupati didampingi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Purworejo Ahmad Dahlan SE, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dn Peternakan Ir Sunoto, Kadis Pertanian dan Kehutanan Ir Dri Sumarno, Kasubag Humas Setda R Baroto SSos, dan pejabat dari Bappeda.
Pada kunker tersebut komisi B  berdialog dengan para ketua kelompok tani ternak se Kecamatan Kaligesing. Dalam dialog itu, muncul berbagai keluhan terkait kendala yang dihadapi para peternak, dalam mengembangkan populasi ternak kambing PE. Sutono, ketua kelompok tani ternak “Anjani”, mengatakan bahwa untuk mengembangkan usahanya, peternak membutuhkan berbagai uluran tangan pemerintah. Kebutuhan modal, baik itu subsidi makanan ternak, modal untuk perbaikan kandang maupun peralatan untuk mengolah kotoran kambing menjadi pupuk organik.
Ia mempertanyakan apa artinya sebuah nama, bila hanya dengan nama besar namun petani tidak mempunyai kemampuan. Pernyataan itu dimungkinkan sebagai sindiran atas upaya pemerintah untuk melegalkan kambing PE sebagai milik masyarakat Kaligesing. Pemda beberapa waktu lalu pernah mangajukan permintaan hak paten ke Depkumham. Namun disisi lain, petani tidak mendapat uluran tangan sebagai upaya mengembangkan usahanya.
Wakil Bupati Drs H Mahsun Zain pada kesempatan tersebut menyatakan bahwa Kecamatan Kaligesing merupakan sentra pengembangan kambing PE di Purworejo. Populasinya saat ini mencapai 67.000 ekor, tersebar di beberapa kelompok tani sebagai village breeding centre.  Keberadaan Kambing PE Kaligesing diawali sejak pemerintahan kolonial Belanda. Saat ini ada bantuan kambing etawa berasal dari India, yang ditemoatkan di beberapa wilayah Kecamatan Kaligesing.
Oleh petani pejantan PE dikawinkan dengan kambing betina lokal, hingga keturunan ke lima. Pada keturunan kelima inilah, petani melakukan pembersihan pejantan bekwalitas rendah. Hingga kini kwalitas kambing PE Kaligesing menjadi ikon Kabupaten Purworejo. Kambing PE yang saat ini berada di luar Kabupaten Purworejo, juga berasal dari Kaligesing. Peminat kambing PE cukup tinggi. Terbukti setiap hari Sabtu di pasar kambing Pendem, Desa Pandanrejo selalu ramai. Pembelinya datang dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri seperti Malaysia.
Ia mengaku pernah ditegur Gubernur Jawa Tengah, H Bibit waluyo, terkait adanya kambing PE Kaligesing yang berkwalitas A, dimiliki negara Malaysia. Kondisi tesebut, dikawatirkan akan menurunkan popilasi kabing PE berkwalitas, di masa mendatang. Terhadap hal itu, ia menyatakan bahwa sebenarnya Pemkab Purworejo telah mempunyai perda yang isinya melarang pejantan kwalitas A agar tidak keluar dari wilayah Purworejo. Kendati diakuinya perda tersebut perda melawan hak.
“Disaat petani membutuhkan biaya, ada tawaran yang tinggi, tentunya petani akan menjualnya secara diam-diam. Terhadap hal ini pemkab tidak bisa berbuat banyak. Sebagai solusinya, saya menghimbau kepada peternak, apabila memiliki pejantan berwkalitas A, jangan dijual ke luar daerah. Apabila ada peternak yang akan mengawinkan indukannya, agar datang dengan ditarik biaya. Dengan demikian di satu sisi keberadaan pejantan berkwalitas tidak keluar, disisi lain kebutuhan peternak untuk membayai hidupnya tercukupi” katanya.
Kepala Balai budidaya ternak dan ruminansia pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Jawa Tengah, Sukardi, menginformasikan bahwa  pasca ditolaknya pengajuan hak paten kambing PE ke Depkum HAM, tidak perlu pesimis. Sebab untuk melindungi dari bajakan pihak luar seperti Malaysia, Menteri Pertanian telah membuat surat keputusan. Dalam SK tersebut, namanya diubah dari kambing PE Ras Kaligesing, menjadi kambing Ettawa Kaligesing, berasal dari Kaligesing Purworejo. Rencanaya SK akan diserahkan Juli mendatang.
Antara hak paten dan SK Mentan sama-sama mempunyai kekuatan, perbedaannya hanya masalah lingkupnya saja. Bila hak paten diakui secara internasional, sedangkan SK Mentan berlaku secara nasional.

Sumber Purworejo News

Komentar ditutup.